Sebagai orang Bandung ternyata tidak dapat sesering mungkin mengunjungi tempat-tempat wisata lokal untuk relaksasi. Bukannya tidak tertarik dengan hal ini, tetapi keadaanlah yang kurang mendukung untuk semua itu. Maklumlah pengacara (pengangguran banyak acara) he…
Sedikit berkaitan dengan tittle ni blog, rasanya cukup relevan jika memuat sedikit deskripsi mengenai sarana dan tempat-tempat di Bandung misalnya beberapa tempat wisata seperti Kawah Putih yang ada di Ciwidey ini, atau Situ Patengan, dan lain-lain yang sekiranya diperlukan orang banyak, terutama buat yang berada diluar Kota Bandung. Sayangnya waktu benar-benar belum menginjinkan.
Meskipun telah diuraikan pada website resmi dan yang lainnya, rasanya tidak ada salahnya juga menampilkan disini sedikit uraian tentang hal tersebut. Hitung-hitung menambah wacana untuk para pembaca intern blog ini. Mudah-mudahan diwaktu mendatang bisa melengkapi blog ini.
Setelah beberapa waktu lalu mengupas masalah tampilan friendster , ternyata ada yang menanyakan hal lain yang berkaitan dengan friendster juga. Menjawab pertanyaan saudara Nurwan SM, bagaimana merubah alamat url friendster kita? Misal pada awalnya http://www.friendster.com/123…..
Hal tersebut sebenarnya sangat mudah dilakukan, tetapi setelah melihat-lihat beberapa friendster yang lain ternyata masih banyak yang belum mencobanya, gak ngeh… atau mungkin tidak begitu penting? jelas alasannya gak begitu tahu. Dan memang gak penting untuk saya ketahui kan? he..
Kembali pada keinginan saudara Nurwan, saya rasa cukup baik untuk melakukan perubahan atau mengedit alamat url friendster tersebut. Selain alamat yang dibuat sesuai dengan keinginan sendiri tentunya akan mudah diingat jika suatu saat lupa (mungkin saja kan ada saat2 kita tidak dapat berinternet-ria selama kurun waktu yang lumayan cukup lama? kyknya saya itu mah beberapa bulan ke depan nanti he..).
Teringat habis jum’atan tadi, langsung menikmati segelas kopi hangat, mana enak… mungkin kata kebanyakan orang begitu. Tapi, lain halnya dengan saya, kalau sehabis makan, entah itu makan siang atau malam bawaanya sebel jadi obatnya segelas kopi hangat mmhh… nikmatlah he…
Saat ini pun, sambil menyeruput segelas kopi dan ditemani sebatang rokok yang mengepul, saya mendengarkan lagu milik afgan. Jadi teringat dari kebiasan lain juga yaitu kalau belum tidur ya anteng didepan komputer dan kalau lagi ga ada siapa2, yang menjadi teman hanyalah sebuah televisi butut yang diandalkan suaranya saja karena sangat jarang melototi visualnya, jadi yang menemani hanyalah audionya saja biar terkesan tidak sepi alias rame (sekalian dengar berita). Sesekali sih nengok juga khususnya acara komedi dan musik.
Bicara soal Afgan lagi, setelah cerita tentang lagu dan hobinya, beberapa hari kebelakang pernah dengar sebuah infotainment (entah apa namanya gak begitu memperhatikan), cuma yang terdengar disitu seorang Afgan bercerita bahwa dirinya sangat benar-benar pemalu dalam kesehariannya tetapi jika sudah bernyanyi di atas stage, dia bisa total dan meledak-ledak tanpa diikuti kebiasaannya itu (sifat pemalunya). Saya rasa hal tersebut patut diacungi jempol, berarti dia seorang yang belajar profesional dalam menghadapi pekerjaanya. Salut yang pertama buat Afgan.
Tekadang pertanyaan seperti “kurang apa lagi?” terlintas dipikiran kita. Misalnya disaat mendapatkan ujian hidup yang bertubi-tubi sehingga kerap kali hati berbisik dan dalam pikiran bertanya-tanya menjadikan kita termenung. Lantas membayangkan apalagi?, bagaimana lagi? yang harus dilakukan sehingga tidak mendapatkan ujian hidup yang seakan selalu berdatangan. Dalam hal ini mungkin lebih tepat dikatakan sebagai ikhtiar dengan mawas dan introspeksi diri.
Mengatasi waktu luang saya terbiasa membuka arsip-arsip lama yang terdapat dalam komputer butut satu-satunya ini, dan tanpa sengaja membuka file yang lama tersimpan di komputer tentang perhitungan atau simulasi ketaatan diri dalam hidup. Sebagian dari kita mungkin tidak dapat jujur mengakui tentang hal-hal yang berkaitan dalam kehidupan sehari-hari. Nah, dengan perhitungan sederhana ini mungkin kita bisa berkata jujur apa adanya sehingga bisa menelaah apa yang telah terjadi dan apa yang sebaiknya dilakukan di waktu mendatang.
Kalau mau mencoba, silahkan download disini .
Ada sebuah kisah, dimana seorang kakek yang telah ditinggal istrinya mempunyai 3 orang anak laki-laki. Ketiga anak laki-lakinya itu semua belum berkeluarga. Saat itu anak yang pertama memiliki seorang kekasih dan tidak lama kemudian membawa seorang wanita lagi kerumahnya. Ketika ditanya sang bapak (kakek itu), siapa perempuan itu? sang anak memberitahukan bahwa ia pacarnya. Sang kakek tak merasa heran karena kebiasaan itu dialaminya saat ia masih muda. Yang sedikit menjadi heran, beberapa bulan kemudian wanita (pacar pertama sang anak) itu dinikahi sang bapak (kakek) yang jelas2 usianya telah berada diujung senja.
Setelah menikahi perempuan muda yang cantik, seorang kakek berusia 90 tahun itu mendatangi seorang dokter. Dengan bersemangat, bangga dan sedikit menyombongkan diri ia bercerita kepada dokternya bahwa istrinya itu kini sedang hamil.
Sambil menahan perasaan, sang dokter berkata, “Kakek, saya punya cerita. Begini ceritanya:
Seorang lelaki dungu pergi berburu. Tetapi karena dungunya ia malah membawa payung bukan senapan. Nah, di tengah hutan ia dihadang oleh seekor beruang besar. Ia kemudian menodongkan payungnya, menembak si beruang, dan beruang itu mati seketika.”