Berjejalnya berbagai pikiran didalam otak terkadang menuntun kita kearah yang tidak seharusnya. Disaat pikiran dipenuhi beragam permasalahan khususnya, mungkin diantara kita pernah mengalami tidak mengingat nikmat apa yang kita dapatkan. Biasanya sikap yang kerap kali melupakan akan nikmat berasal dari kondisi perbedaan yang dominan atau kontras antara satu dengan yang lainnya, misalnya melihat orang lain sukses sedangkan kita sebaliknya atau malah kita berada dalam kondisi keterpurukan, orang lain pintar menguasai materi pelajaran di sekolah sementara kita sebaliknya, hal tersebut yang kadang menghilangkan nikmat yang diterima seolah-olah tidak ada.
Jika saja kita menyadarinya dengan sangat bijak, mungkin kita bisa mengakuinya kembali bahwasannya masih ada nikmat-nikmat yang lainnya pada diri kita meski itu berbeda sifat dan bentuknya dengan nikmat yang diterima orang lain. Seperti halnya, Imam Al Ghazali memberi pengertian yang sederhana mengenai nikmat, yakni sesuatu yang membuat hidup kita enak. Nah, pastilah diantara kita semua tahu dan penah merasakan sesuatu yang enak tersebut, itulah sebuah nikmat.
Kekuatan pikiran seringkali kita lupakan. Bila kita berpikir bahwa kita telah dikalahkan, maka sebenamya kita telah kalah sebelum berperang, bila kita berpikir kita tidak mampu, maka sungguh kita menjadi lemah. Bila kita ingin menang tapi kita berpikir kita tidak bisa menang, maka kita tidak akan pernah menjadi seorang pemenang.
Pada dasarnya, Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan kemampuan untuk berpikir. Dari pikiranlah dunia berkembang, dari peradaban primitif menjadi peradaban super modern. Jadi, segala sesuatu yang manusia ciptakan tiada lain adalah berasal dari kemampuan memberdayakan berbagai pikiran.
Komitmen pribadi untuk melakukan hal yang baik dengan sikap mental yang positif, nicaya akan mempunyai kepercayaan bahwa hal-hal baik akan terjadi seperti halnya punya keyakinan bahwa jika suatu saat muncul masalah, maka akan mempunyai kekuatan dan ketrampilan untuk menangani, mengambil alih dan kemudian menaklukkannya.
Mengukur penampilan Public Figure ternyata tidak hanya dapat dilihat dari satu sisi saja, misalnya khusus pada apa yang sedang digeluti atau ditekuninyanya. Hal ini bisa kita lihat di berbagai Reality show yang saat ini sangat merebak diberbagai satsiun televisi.
Super Star acara yang di pandu Eko Patrio bersama Ruben Onsu ini merupakan salah satu acara reality show dalam rangka pencarian bakat menyanyi dari bintang-bintang yang telah terjun ke dunia hiburan sebelumnya. Dimana Indosiar mungkin bisa termasuk salah satu stasiun TV yang banyak melahirkan acara reality show, telah menyajikan program baru yaitu ajang pencarian bakat bertajuk Superstar Show. Kelahiran tayangan ini tidak lepas dari sukses yang diraih program sejenis, seperti Mamamia, Star Dut, dan Super Mama Seleb Concert.
Menejelang adanya reality show Mamamia 2, Star Dut 2 dan AFI junior 3, ”Super Star Show” adalah program baru Indosiar yang pada malam tadi memasuki babak grand finalnya.
Cerahnya langit biru, dimana tanpa ada awan sedikitpun, terkadadang membuat segelintir orang hanyut untuk menikmatinya dengan menatap lagit sambil pikiran jauh menerawang. Memandang birunya langit yang cerah, menurut beberapa orang bisa dikatakan dapat menambah semangat. Apa iya? Mungkin memang benar, barangkali bisa diingat kita pernah mendengar beberapa orang dengan begitu semangatnya untuk menjalankan aktivitasnya dikala melihat langit cerah.
Hmm… jika diingat-ingat, rasanya pernah juga kayaknya he.. Wajar-wajar saja sih, soalnya warna biru yang terdapat pada langit yang cerah itu, konon memang memiliki kekuatan untuk menenangkan jiwa. Bahkan warna biru dalam pikiran dapat memperlambat detak jantung dan membuat kita mengambil nafas dalam-dalam (silakan coba sendiri).
Nah, Kira-kira apalagi ya, selain langit biru, pemandangan yang seperti apa lagi ya yang bisa bikin ngerasa rileks dan semangat? Apakah daratan yang penuh dengan salju putih? Lautan biru? Gunung yang hijau? Atau… Padang yang penuh dengan berwarna kuning?
Janji suci, mungkin bisa dikatakan janji yang keluar dari hati nurani. Tetapi janji yang sekedar keluar dari mulut yang hanya sekedar lisan belaka, bukanlah janji suci meskipun Si peng-ikrar mengklaimnya sebagai janji suci.
Janji suci harusnya dapat dipertanggungjawabkan keberadaan pengaruh dan realitasnya, entah itu janji sebagai teman dekat, sebagai sepasang kekasih, atau pun yang lainnya. Mudah-mudahan sebuah janji suci bisa bertahan hingga akhir waktu, selaras dengan syair-syair yang tersurat dalam karya anak bangsa, Yovie dan Nine Ball, he…
Perbedaan yang selalu ada, bukan berarti melemahkan kita untuk bisa maju bersaing dengan orang lain. Dalam hal ini hanyalah untuk menunjang terhadap diri sendiri pula, dimana diri sendiri tidak akan lupa diri serta dapat mengukur posisi keberadaan diri sendiri, apakah diri kita itu sebagai teman, sebagai saudara atau kerabat, tamukah dan lain sebagainya, tentunya memiliki porsi keberadaan yang berbeda-beda yang pada akhirnya dapat saling memberikan makna dan hikmah dari apa yang ada dari setiap masing-masing yang berinteraksi.
Mengabaikan siapa diri kita yang hakiki, dan mencoba melebur dalam kepribadian orang lain, maka akan menghancurkan karakter asli kita sendiri. Kita menjadi tidak kenal siapa diri kita, apa yang seharusnya menjadi pegangan sehingga mudah diombang-ambingkan arus dari luar.
Setiap manusia mempunyai bakat, potensi dan kelebihan masing-masing. Tidak ada manusia yang sama di dunia ini, bahkan saudara kembar pun ada perbedaannya. Tuhan menciptakan perbedaan sifat, karakter, bahasa dan bangsa tentu saja ada maksudnya. Perbedaan itu untuk membuat manusia saling belajar, saling mengenal dan menerima perbedaan itu agar dapat saling memberi manfaat.