Cinta….
Cinta ibarat nyawa kedua yang terpenting mengikuti raga. Kenapa bisa begitu? Bisa dibayangkan hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga (eh.. lirik lagu itu mah), Hidup dengan cinta akan terasa indah dan menyenangkan, dalam hal ini tentunya cinta dalam cakupan global. bukan saja mengenai cinta sepasang kekasih melainkan termasuk ruang lingkup global yakni sesama, alam semsta dan tentunya Sang Pecipta.
Ketika cinta hadir tanpa keseimbangan, ia akan menekan akal kuat-kuat alhasil, manusia kemudian menjadi limbung dan hilang nalar. Sebaliknya, jika perasaan cinta selalu dirasionaliasi, kehidupan di dunia akan terasa kaku dan dingin. Karena bagaimanapun juga, perasaan cinta selalu memberi keindahan dan kehangatan pada manusia yang mengalaminya.
Pagi ini saya menuangkan sedikit kekhawatiran mengenai peradaban (etika) yang berkembang di kota besar selama ini. Teringat sorang teman yang mengalami perlakuan yang tidak sepatutnya terjadi.
Ceritanya dia berkunjung ketempat temannya dengan tujuan memberikan sesuatu (barang). Berhubung yang dituju tidak ada dan dia pun terburu-buru dengan keperluan yang lain, maka berinisiatif menitipkan barang tersebut kepada tetangga temannya yang dituju itu. Namun apa sambutan yang didapat? Hanyalah sebuah makian semata.
Walaupun tak dapat digolongkan sebagai ancaman dan bahaya, keterlibatan kita dalam kehidupan di kota besar membawa beberapa konsekuensi yang layak diwaspadai. Apa yang yang kita lakukan terus menerus selalu membawa dampak yang meskipun pada awalnya kurang berarti, tetapi secara akumulatif pada akhirnya kadang-kadang bisa termasuk merugikan, jika tak dapat dikatakan berbahaya.
Angkatan kerja yang besar dan menumpuk di kota jelas menjadi masalah sosial tersendiri yang mesti ditangani dengan baik dan bijaksana. Urbanisasi lebih sering disebut-sebut sebagai dampak negatif daripada dipahami sebagai akibat wajar dari besarnya permintaan tenaga kerja kasar di kota besar. Emangnya kalau tak ada Udin dari Cilacap atau Ngatini dari Gunung Kidul, siapa yang bisa diminta ikut membangun gedung beringkat? Siapa yang mau mengangkut sampah-sampah yang beserakan?