Baru saja kita merasakan tahun baru 2008 Masehi, masih terasa hangat dingatan kita dengan berbagai resolusi-resolusinya, pengharapan-pengharapan yang mudah-mudahan tercapai di tahun ini. Kini setelah sepuluh hari berlalu kita masih dapat merasakan tahun baru lagi, 1 Muharram 1429 H.
Sungguh bahagianya kita masih diberi kesempatan Sang Maha Kuasa untuk dapat terus melanjutkan perjuangan-perjuangan hidup, semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita untuk bisa amanah dengan waktu yang diberikan kepada kita semua.
Ketidakpedean untuk melakukan sesuatu terkadang muncul akibat dari adanya kurang optimis. Padahal rasa optimis itu harus jelas ada sehingga akan memunculkan rasa percaya diri untuk melakukan hal-hal yang diinginkan.
Agar kita bisa lebih pede, kita harus optimisme. Apa itu optimisme? Optimisme memiliki beberapa pengetian, diantaranya :
Optimisme adalah doktrin hidup yang mengajarkan kita untuk menyakini adanya kehidupan yang lebih bagus buat kita (punya harapan). Orang optimis adalah orang yang yakin (dengan alasan-alasan yang dimilikinya) bahwa ada kehidupan yang lebih bagus di hari esok.
Pengetian lain dari optimisme berarti kecenderangan batin untuk merencanakan aksi, peristiwa atau hasil yang lebih bagus. Optimisme berarti menjalankan apa yang kita yakini atau apa yang dibutuhkan oleh harapan kita. Kalau dipendekkan, optimisme berarti kita meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus dan keyakinan itu kita gunakan untuk menjalankan aksi yang lebih bagus guna meraih hasil yang lebih bagus pula.
Pernahkah merasa terjebak oleh rutinitas pekerjaan sehari-hari? Tetunya tidak semua orang mengalaminya. Mungkin saya pernah merasakan terjebak pada kondisi seperti itu, pada kondisi tersebut saya sangat jarang sekali melakukan aktivitas tambahan misalnya saja jalan-jalan disekitar pusat kota, sampai-sampai tempat yang biasa dikunjungi hampir tiap hari begitu terasa asing ketika saya mengunjuginya kembali.
Mungkin selain saya, terdapat tidak sedikit orang yang terjebak dengan rutinitas pekerjaan setiap harinya dan yang pada akhimya merasakan kebosanan. Hal ini umumnya terjadi karena melakukan hal yang sama dengan cara yang sama setiap harinya. Tidak ada motivasi untuk melakukan sesuatu yang baru yang lebih besar. Kita masuk ke dalam zona kenyamanan ataupun faktor lainnya.
Saleresna mah sim abdi teh masih ngatog dina masalah ngadamel seratan. Ieu masih keneh lebeng, teu kaemutan upami bade ngawitan nyerat nu sae teh, ngawitanana kumaha sareng kedah kumaha oge supados hasilna sae. Tapi sigana upami teu ngawantunkeun diri mah salamina oge pasti moal tiasa-tiasa, janten ayeuna abdi ngawantun-wantun wae ngadamel seratan nu teu pararuguh panginten, sakedik ngacapruk oge ah teu sawios panginten da abdi mah nuju diajar keneh he….
Ieu oge bakat ku… ; (kesel kumargi sadidinten mung bengong teu pararuguh, bakatning ku teu aya damelaneun), (butuh atanapi peryogi pisan hiburan kan tiasa sareng surfing diinternet he..), (teu aya kaisin alias teu aya ka era kumawantun ieu abdi nya, padahal mah panginten teu aya nu malire hm..), (hoyong pisan tiasa ngadamel seratan nganggo basa Sunda, etang-etang diajar sareng ngamumule basa daerah nu tos tangtos janten akar budaya nasional hmm…).
Masih suasana tahun baru ini rasanya tak habis-habisnya untuk dibicarakan. Impian indah yang senantiasa didambakan selalu membayang dibenak kita, ingin seperti ini, atau seperti itu dan lain sebagainya. Hendak melakukan ini itu tentunya menjadi harapan dimasa yang baru yang sedang dihadapi. Pada intinya, ingin menjadi lebih dan lebih lagi dari yang sudah-sudah. Tentunya dengan adanya berbagai impian yang lebih baik lagi.
Jika mengingat sejenak di tahun yang lalu, sungguh banyak kejadian dan fenomena umat yang sangat memprihatinkan. Kemaksiatan, kemungkaran, dan bahkan kekufuran kerap mewarnai perjalanan sepanjang tahun. Pada akhirnya, bencana alam, musibah kemanusiaan dan kacaunya tatanan sosial di masyarakat pun terjadi. Bukan alam yang salah, apalagi menyalahkan Tuhan dengan menuduh ketidak-adilan. Sesungguhnya ini adalah mutlak dosa manusia, dosa-dosa yang selalu dibiarkan marak terjadi di tengah-tengah kita.
Bicara tahun baru, semua pastinya mempunyai keinginan-keinginan untuk mencapai sesuatu yang tertunda atau pun keinginan-keinginan yang baru. Berbagai resolusi pun biasanya diingat bahkan mungkin ada yang mencatatnya. Hal ini wajar-wajar saja sih, yang mungkin bisa merupakan motivasi atau dorongan untuk mencapai keinginan-keinginan tersebut.
Satu hal yang patut kita ingat, yakni waktu. Karena waktu merupakan komponen yang sangat vital dalam kehidupan ini. Pentingnya peranan waktu sering Allah ingatkan dalam AlQuran. Waktu pun tidak akan pernah luput menyertai kita, oleh karena itu kita harus benar-benar menempatkan waktu pada komponen penting prioritas hidup.