Pagi itu begitu semangatnya hati untuk berangkat menuntut ilmu seperti biasanya, namun karena merupakan pertemuan awal, rasa semangat untuk pergi ke kampus begitu tinggi. Suasana pagi begitu segar dan langit pun seakan begitu bersih tanpa ada segumpal awanpun yang berani mengotorinya. Matahari mulai berkuasa keluar dari peraduannya, hendak membakar tiap-tiap apa yang biasa disinarinya. Debu-debu dari jalanan belum benar-benar merajalela, masih melekat pada semua benda yang ada di dekatnya, pada pintu, jendela dan apapun yang berada di dekatnya.
Saat ini mungkin mereka sedang asyik berada di dalam ruang kerja. Meminum segelas air segar atau secangkir kopi, bercanda bersama teman-temannya disela kesibukan masing-masing, melantunkan dendang meski hanya satu dua bait saja dengan volume suara yang lemah sambil menggerakan jari-jarinya pada keyboard. Sebenarnya pagi itu tidak biasanya pergi ke kampus, tetapi berhubung yang punya ilmu mau memberikan ilmunya hanya bisa dipagi hari itu, ya dengan sedikit keterpaksaan meninggalkan sejenak dunia pekerjaan yang dijalani untuk mencari sesuap nasi demi sebuah ilmu yang diinginkan.
Bingung dengan tumpukan informasi dalam belantara supercepat di internet?
Kebingungan pada saat mencari sesuatu informasi atau barang di media mesin pencari adakalanya karena tidak mendapatkan apa yang sedang dicari. Mungkin hal itu yang pernah di alami.
Jika itu terjadi, berarti ada tiga kemungkinan. Pertama, soal relevansi. Situs pencari hingga sekarang pun terus berjuang memberikan halaman hasil pencarian yang relevan. Kemungkinan kedua, kurang bisa mencarinya karena situs pencari biasa menampilkan hasil pencarian bukan hanya kata atau frase yang diketikkan, melainkan gabungan keduanya dan ditambah parameter “string”. Kemungkinan ketiga karena memang situs pencari tidak memiliki informasi yang dicari di dalam indeksnya. Mengapa? Sebab, informasi tersebut terkunci dalam bak database, sehingga tidak terjangkau oleh situs pencari. Nah, sumber informasi “tersembunyi” ini yang tidak dapat diakses oleh situs pencari biasa. Itu disebut juga dengan istilah “deep web” atau “invisible web.
Jika saat ini menyimpan uang pada deposito perbankan, perlukah peduli tentang topik ini? he…
Money Illusion, Ilusi uang.
Cerita kurang lebihnya mungkin seperti ini. Uang Rp 300 juta didepositokan di bank dengan bunga 10% pertahun. Berarti bunga bersihnya 8% karena ada pajak 20% atas bunga.
Setelah lima tahun uang sudah beranak pinak menjadi sekitar Rp 440,8 juta. Jika nominal uang dipakai sebagai ukuran, maka uang bertambah banyak hampir satu setengah kali lipat. Permasalahannya: apakah berarti pula telah beruntung satu setengah kali lipat dari lima tahun sebelumnya?
Setiap individu dari kita semua tentunya mempunyai jejak hidup yang senantiasa berbeda satu dengan yang lainnya.
Secara kodrat hal ini memang telah digariskan oleh Tuhan penguasa alam semesta ini. Tatkala kita ada atau sudah tiada akan diingat oleh orang-orang yang mengenali disekitar kita.
Seiring berjalannya kehidupan, bertumbuhnya diri kita dan semakin bertambahnya ilmu yang kita miliki, kini setidaknya kita tahu diri kita yang sebenarnya, walaupun belum sepenuhnya atau seluruhnya kita mengetahuinya. Sudahkah kita mengetahui diri kita yang sesungguhnya?
Ada dua jenis manusia. Pertama, yang membuat kisah pribadinya, dan kedua, yang membuat sejarah.
Tujuan mereka yang membuat kisah pribadi adalah untuk kepuasan dirinya sendiri, sedangkan manusia yang membuat sejarah berusaha untuk melayani seluruh manusia. Perhatian seorang yang membuat kisah pribadi berputar pada diri sendiri. Dia melayang-layang di sekitar wilayah di mana kepentingan dirinya dapat tercukupi. Hatinya penuh dengan kebahagiaan jika dia berhasil meraih sesuatu bagi dirinya, tetapi bila tidak ada sesuatu yang dapat diraihnya, maka tak ada kebahagiaan dalam dirinya.
Jangan terlalu cepat ‘panas’ atau iri terhadap yang kaya dalam hal materi karena beban dan tanggung jawabnya juga berat serta hambatan untuk mengejar harta rohani pun lebih besar ketimbang dari yang hidup sederhana.
Dari seorang novelis Rusia, di zaman kejayaan komunis di sana, pernah menulis sebuah novel dengan judul Bukan hanya dari roti. Judul itu saja telah mengisyaratkan bahwa manusia hidup di dunia ini bukan melulu mengurusi hal-hal duniawi belaka. Bukan mengisi perut saja. Bukan mengumpulkan harta belaka. Bukan memikirkan roti atau nasi saja setiap harinya. Manusia juga membutuhkan makanan rohani. Sebab manusia bukan hanya terdiri dari tubuh dengan ususnya, tetapi juga sebuah kesadaran, sesuatu yang bersifaf rohani.